Wanita Muliakanlah Dirimu!

“Wanita Muliakan Dirimu”

(By: Lia Andhiani, Baiti Jannati Risalah Edisi Nopember ‘10)

Suatu ketika seorang wanita menghadap Rasulullah Saw meminta izin untuk turut berjihad. Wanita itu berkata, “Ya Rasulullah, aku diutus oleh kaum wanita untuk menghadap engkau yang mewakili mereka dalam berjihad. Perang ditetapkan Allah bagi kaum laki-laki dimana jika mereka menang mereka akan mendapat pahala dan jika mereka gugur mereka akan mendapat kemuliaan di sisi Allah (sebagai Syuhada) sedangkan kami adalah kaum wanita, jika kami membantu kaum laki-laki berperang apakah kami mendapat pahala? “Nabi Saw menjawab “sampaikan salamku kepada para wanita yang mengutus kamu, taat kepada suamimu dan menjalankan semua perintahnya akan sama pahalanyadengan orang yang berjihad. Namun mereka banyak yang tidak melakukannya” (HR. Bazar dari Ibnu Abbas).

Sudah menjadi ketentuan Allah bahwa wanita merupakan makhluk Allah yang unik. Tubuh wanita diciptakan Allah lemah gemulai dan serba lembut. Namun tubuh ini sungguh istimewa dan khas. Kelak ia akan mampu menampung manusia lain di dalam suatu tempat bernama rahim. Rahim adalah tempat paling terhormat yang dimiliki oleh wanita.

Secara kejiwaan kaum wanita lebih emosional dan peka dari kaum pria. Di sisi lain perlu kita akui bahwa wanita sangat kurang dalam penggunaan rasio dan tenaga. Namun hal itu bukan kekurangan, bahkan semua ini merupakan modal utama dalam pendidikan pertama bagi anak-anak. Anak-anak memerlukan kepekaan rasa dan kasih sayang bukan ketegasan dan logika. Mendidik anak merupakan kemuliaan dan karunia besar bagi kaum wanita. Mengandung dan melahirkan anak adalah pekerjaan fitrah wanita yang paling utama. Menyiapkan suatu generasi yang islami merupakan pekerjaan besar besar dari jihad di jalan Allah.

Di sisi lain Allah menetapkan laki-laki (suami) menjadi kepala rumah tangga. Mereka betanggungjawab atas keselamatan keluarganya dan wajib memberi nafkah. Kaum wanita itu mempunyai hak sama dengan kaum pria dengan cara yang baik akan tetapi kaum pria mempunyai derajat kekuasaan di atas mereka. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqoroh: 228). Kaum pria itu berkuasa atas kaum wanita dengan kelebihan yang diberikan Allah pada yang satu atas yang lain dan nafkah yang mereka berikan dari harta mereka” (QS. An-Nisa: 34).

Hak antara pria dan wanita sebenarnya sama saja, namun Allah menentukan pria sebagai pemimpin. Pemimpin yang baik haruslah kuat, mampu berusaha menjaga dan membela keluarga. Ia bertanggungjawab dihadapan Allah atas keimanan dan keselamatan seluruh keluarganya di dunia dan di akherat. Suami dan istri masing-masing mempunyai hak sesuai dengan arahan Rasulullah Saw. “Hak suami atas istri ialah tidak menjauhi tempat tidur suami yang memperlakukannya dengan berani dan jujur, menaati perintahnyadan tidak keluar rumahnya (meninggalkan) rumah kecuali dengan izin suaminya, tidak memasukkan ke dalam rumahnya orang-orang yang tidak disukai suaminya” (HR. Thabrani).

Rasulullah Saw senantiasa mengingatkan kaum wanita agar benar-benar mampu menjadi istri yang taat kepada suaminya serta mensyukuri apa yang diberikan oleh suaminya. “Diperlihatkan kepadaku neraka kebanyakan penghuninya kaum wanita karena kekufuran mereka. Para sahabat bertanya. “apakah mereka kufur kepada Allah? Nabi Saw menjawab, “mereka mengkufuri pergaulan dan kebaikan. Apabila kamu berbuat ihsan kepada mereka sepanjang umur lalu dia mengalami sesuatu yang tidak menyenangkannya dia akan berkata, “Kamu belum pernah berbuat baik kepadaku.” (HR. Bukhari). Syarat agar terwujudnya keluarga sakinah, istri hendaknya taat dan patuh kepada suaminya serta tidak dibenarkan membantah suami apabila berada dalam kebenaran. “Tidak dibenarkan manusia bersujud kepada orang lain, maka tentu akan aku suruh terlebih dahulu kaum wanita bersujud kepada suaminya karena hak para suami yang diberikan Allah dari istri-istrinya.” (HR. Ahmad)

Kini kaum wanita sudah banyak yang lupa bahwa dirinya wanita, yang lahan ibadahnya sebagian besar dan secara fitrah ada di rumah tangga. Gaya hidup konsumtif dan materialis telah memacu wanita ikut berlomba-lomba dalam berbagai kegiatan ekonomi. Banyak di antara mereka sebenarnya bekerja bukan karena tuntutan mencari sesuap nasi, melainkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder, tertier, dst. Maka wanita-wanita dari berbagai strata sosial ekonomi rendah lebih suka jadi buruh-buruh wanita di pabrik daripada menjadi khadimat misalnya. Kemudian kalaupun mereka akan memilih di luar negeri sebagai TKW. Padahal dikedua sektor kehidupan itu wanita kerap menjadi sasaran empuk penipuan demi penipuan.

Mereka ingin bebas keluar rumah karena tergiur dengan popularitas, prestise, ada yang tergiur dengan tawaran penghasilan yang sangat tinggi walau harus menjual kemolekan tubuh dan kecantikan wajahnya, ada juga di antaranya yang terlibat skandal atau affair dengan teman laki-lakinya. Mereka lebih memilih menjadi single parent karena merasa mampu mendidik dan membesarkan anak tanpa peran serta seorang ayah, bahkan ada sebuah trend yang berkembang, trend itu disebut SASHA yang merupakan kepanjangan dari Single, Attraktive, Happy and Affluent atau dalam bahasa Indonesia berarti Lajang, menarik, sukses, bahagia, dan kaya raya. Sungguh sangat memprihantikan, Naudzubillahi min dzalik. Wallahu ‘alam bis Shawab.

6 thoughts on “Wanita Muliakanlah Dirimu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s