Kenangan Terindah Bersama Sang Ustadz…

Hayat & Perjuangan Ustadz Shiddiq Amien

Sumber: Majalah Risalah Edisi Dzulhijjah 1430 H/Desember 09 M

“Ya Allah! Hamba tahu rizqi hamba takkan dapat diambil orang, karenanya hati hamba tenang..
Ya Rahman! Hamba sadar amal hamba takkan mungkin dikerjakan orang lain, maka hamba sibukkan diri hamba untuk beramal..
Ya Ghaffar! Hamba yakin Engkau selalu mengawasi diri hamba, kapan dan dimanapun hamba berada, baik ketika hamba sendiri atau bersama yang lain, karenanya hamba malu jika Engkau mendapati hamba sedang bermaksiat..
Ya Rahim! Hamba paham kematian selalu mengintai hamba, maka hamba persiapkan bekal untuk menghadapMu..

Ya Mujibas-sailin! Hamba optimis bahwa Engkau Maha pengabul do’a, Engkau Maha Pengampun dosa, maka kabulkanlah do’a hamba, ampunilah segala kesalahan dan dosa hamba, luaskanlah rizqi dan ilmu hamba, kuatkanlah fisik dan mental hamba, dalam menghadapi fitnah dunia, dan anugerahkanlah kepada hamba ketentraman dan kebahagiaan hidup, lahir batin, dunia akherat. Amien…”
(Do’a yang dituliskan Ustadz Shiddiq Amien dalam buku agendanya, dan pernah disebarkan via sms kepada keluarganya menjelang Ramadlan 1430 H)

Sabtu malam, 31 Oktober 2009, jam 22.15 wib, Ustadz Drs. Shiddiq Amienullah, MBA atau akrab dipanggil Ustadz Shiddiq amien, wafat di RS. Al-Islam, Bandung. Dalam usianya yang ke-54, beliau dipanggil pulang oleh Allah swt.
Telah banyak catatan emas kehidupan Ustadz shiddiq yang diabadikannya untuk umat melalui dakwah dan pendidikan, khususnya melalui jami’iyyah Persatuan islam (Persis). Dari sejak menjadi santri, beliau sudah diamanahi Ketua Umum Rijalul Ghad (RG/ Organisasi santri intra pesantren) Pesantren Persis, Pajagalan, Bandung, pada tahun 1976. Sekembalinya ke Tasikmalaya, beliau diamanahi Sekretaris Pimpinan cabang Persis Cipedes, Tasikmalaya, pada tahun 1977-1984. Pada tahun 1977 juga, dalam usia yang sangat muda 22 tahun, beliau diamanahi untuk memimpin Pesantren Persis, Benda, Tasikmalaya.

Pada tahun 1984-1990, Ustadz Shiddiq menjabat Ketua Pimpinan Daerah Persis priangan Timur (Tasik dan ciamis). Pasca Muktamar 1990, beliau diangkat sebagai ketua bidang Jami’iyyah PP. Persis yang waktu itu dinahkodai Ustadz A. Latief Muchtar. Ketika Ustadz A. Latief wafat pada tahun 1997, Ustadz Shiddiq diangkat sebagai penggantinya sampai Oktober 2009 silam. Dari sejak masuk lingkungan PP. Persis, Ustadz Shiddiq juga diamanahi sebagai Sekretaris Dewan Hisbah PP. Persis sampai beliau diangkat menjadi Ketua Umum PP. Persis tahun 1997.
Sejak tahun 1998, Ustadz Shiddiq diangkat sebagai anggota Dewan Penasihat MUI Pusat. Pada tahun 1999-2004 beliau menjabat anggota MPR RI Fraksi Utusan Golongan. Kemudian pada tahun 2004, atas restu Jami’iyyah, beliau maju dalam pencalonan Dewan Perwakilan Daerah/ DPD dari daerah Jawa Barat, walau kemudian tidak lolos. Sejak tahun 1997, beliau juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT. Karya Imtaq, Bandung dan Pemimpin Umum majalah Risalah, Bandung. Pada tahun yang sama beliau juga mejadi Komisaris Utama BPRS amanah Rabbaniah, Bandung sampai tahun 2000 dan anggota Dewan Syari’ah BPRS Al-Wadiah Tasikmalaya tahun 1998-2000. Dan pada tahun 2008, beliau menjadi anggota dewan Pengawas syari’ah bank BTPN.
Aktivitasnya sebagai pengajar terfokus di Persantren Persis, Benda, Tasikmalaya. Akan tetapi beliau pernah tercatat pula sebagai Dosen STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) Persis, Bandung pada tahun 1995-1997, Dosen Program Bidang Depkes, Tasikmalaya, pada tahun 1994-1997, dan Dosen AKPER Depkes, Tasikmalaya, pada tahun 1995-1996. Aktivitas sebagai dosen lebih cenderung beliau lepaskan ketika beliau terpilih menjadi Ketua Umum PP. Persis, agar lebih terfokus dalam memimpin Persis. Satu hal yang tentu tidak disangsikan lagi, dan sekaligus menjadi trade mark Ustadz Shiddiq Amien, tentunya adalah aktivitas da’wahnya. Di semua tempat, apakah itu perkotaan ataukah pedesaan, setiap Ustadz Shiddiq tampil memberikan ceramah, bisa dipastikan mustami’ akan datang memenuhi tempat pengajian walau harus sampai berdesak-desakan. Ketika Ustadz Shiddiq mengisi pengajian hampir selalu dipastikan tempat pengajian terasa terlalu kecil saking tidak mampunya menampung jama’ah pengajian. Termasuk pada pengajian ahad ke-1 di masjid PP. Persis, Viaduct, Bandung, sekitar 5000-an jama’ah, dan merupakan yang terbanyak di Bandung, akan memenuhi masjid dan menutup salah satu jalan di Jl. Perintis Kemerdekaan yang kebetulan berdampingan dengan sungai Cika-pundung.
Ustadz yang rajin turun ke Daerah walau harus ke pelosok sekalipun itu, kini telah wafat. Umat semuanya tentu merasa kehilangan beliau yang selalu bernas dan cerdas dalam menyampaikan ceramahnya. Semoga, kembalinya beliau ke hadirat-Nya bisa segera digantikan oleh tunas-tunas baru yang tentunya lebih segar dan mekar. Allahumma-ghfir lahu wa-rhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu-wa wassi’ madkhalahu.

Sekilas tentang perjalanan hidup Ustadz Shiddiq Amien:
 Anak yang keranjingan bahasa Inggris: Dari sejak kecil, Ustadz Shiddiq Amien, gemar sekali dengan pelajaran bahasa inggris. Ia sampai mengikuti kursus bahasa Inggris secara khusus, di samping sekolah formalnya. Bahkan, untuk kuliah D3 dan S1 pun sengaja diambilnya jurusan bahasa Inggris.
 Pengagum Ustadz Abdurrahman: Dari sejak remaja, ustadz Shiddiq Amien tidak pernah melewatkan pengajian Ustadz Abdurrahman di Tasikmalaya. Ketika nyantri di Bandung, terlebih lagi, asal mendengar Ustadz Abdurrahman pengajian di suatu tempat, Ustadz Shiddiq Amien pasti mengejarnya. Termasuk pengajian rutin di masjid Pajagalan, selepas shubuh.
 Mengabdi di jalan dakwah: Kepeloporan Ustadz Shiddiq Amien dalam dunia dakwah tidak disangsikan lagi. Majelis pengajiannya di setiap tempat selalu dipenuhi jama’ah. Tulisan Fikrahnya di Risalah selalu dinantikan pembaca. Kepemimpinannya dalam dakwah jami’iyyah menjadi teladan bagi semua. Dan suaranya yang tegas dalam amar ma’ruf nahyi munkar selalu ditunggu oleh umat.
 Manajer berhati lembut: Kapasitasnya sebagai manajer sudah teraasah dari sejak muda, baik itu di lingkungan jami’iyyah Persis ataupun Pesantren Persis Benda. Semakin absah lagi ketika beliau merampungkan studi S2-nya dalam konsentrasi manajemen pada tahun 1999 silam. Ada satu hal yang berkesan di hati para stafnya terhadap sosok yang manajernya tersebut yaitu seorang berhati lembut.
 Nakhoda Persis di Era Reformasi: Tahun 1997, ketika riak-riak reformasi mulai menyambut ke permukaan, Ustadz Shiddiq amien diberi amanah sebagai Ketua Umum PP. Persatuan Islam, menggantikan Ustadz A. Latief Mukhtar. Dalam usia yang relatif muda, 42 tahun, Ustadz Shiddiq menakhodai kapal Persis mengarungi samudra reformasi.
 Bapak yang bijak, Suami yang adil: Baik, bijaksana, dan bertanggung jawab, demikianlah kesan putra-putri Ustadz Shiddiq Amien terhadap sosok ayahnya. Sementara di mata istrinya, Ustadz Shiddiq dikenang sebagai sosok suami yang adil dan lembut hati.


Bila melihat kenyataan sulit rasanya mencari pemimpin pengganti sekaliber beliau, sungguh tak kuasa menghapus bayangan keraguan bagaimana nasib Jami’iyyah sepeninggal beliau, kecuali lebih meyakini “hasbunallah wani’mal waqiel ni’mal maula wani’mannashir
Selamat jalan Pemimpin dan Ustadz kami tercinta Rahmat dan maghfirah Allah senantiasa menyertaimu..
Innalillahi wainna ilaihi roji’uun….

3 thoughts on “Kenangan Terindah Bersama Sang Ustadz…

  1. Insya Allah beliau menjadi syurga nya Allah….. seperti yang sering ia bacakan ayat2 Allah ketika dia mengimami… shalat berjamaah… ” menuju syurganya allah….Insya Allah ( hilmantasik….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s